Minggu, 01 Januari 2012
Team Karya Muda
Sabtu, 31 Desember 2011
BERBAGI SAMPAH DENGAN KARANG TARUNA SAMBUNG UNDAAN KUDUS
Sampah plastik bagi sebagian orang menjadi hal yang harus dibuang atau bahkan dibakar, ada juga yang mempunyai persepsi berbeda, dimana sampah bukan menjadi hal yang tidak bermanfaat tapi menjadi salah satu penambah pundi – pundi rupiah yang tidak terduga. Berangkat dari hal tersebut, Karang Taruna Karya Muda Loramwetan diminta untuk bertukar pengalaman tentang hal tersebut di desa Sambung Undaan Kudus dalam kegiatan Donor Darah Pelatihan Pemanfaatan Sampah & Lomba Pentas Seni Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) Karang Taruna Desa Sambung Undaan Kudus (31/12/2011)
Rabu, 17 Agustus 2011
Minggu, 14 Agustus 2011
Wisata Budaya
Cagar Budaya Situ Gentong.
Tidak hanya khasiat airnya yang menjadikan Situ Gentong dikenal, melainkan juga karena di Situ Gentong tersebut, ditemukan koin-koin kuno yang terbuat dari emas. Karena dianggap sebagai peninggalan sejarah yang perlu dilindungi, Situ Gentong pun ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dan dilindungi oleh dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten kudus.
Loram Wetan - Sentra UMKM
Loram Wetan saat ini, setidaknya memiliki tidak kurang dari 30 home industry yang rata – rata memiliki tenaga kerja 3 sampai 10 orang.
Berbagai produk hasil dari UMKM yang berada di Desa Loram Wetan, mempunyai peluang yang sangat bagus untuk terus dikembangkan. Rata-rata UMKM di desa loram wetan saat ini telah memiliki pasar dan pelanggan hingga level nasional.
Sabtu, 13 Agustus 2011
Taman Baca IBUKU, Tumbuh dari Keterbatasan
(kontributor: TIM II KKN UNDIP 2011)
Membaca memang belum menjadi kebiasaan masyarakat. Perlu upaya serius untuk memacu daya baca masyarakat yang pada muaranya untuk meningkatkan kecerdasan. Rintisan taman baca yang terus bertumbuh dengan segala keterbatasannya, semestinya patut mendapat dukungan. Sayang, banyak taman baca yang tumbuh dari upaya pribadi, dan lepas dari perhatian pemerintah.
BUKU-BUKU bacaan itu tertata rapi di sebuah rak yang merapat dengan dinding. Dua meja melengkapi ruangan itu. Di salah satu sisi dinding, menempel papan bertuliskan bertuliskan Taman Bacaan Ibuku.
Seorang pemuda dengan mengenakan kaus hitam, sibuk di depan komputer. Adalah Choirul Anam, pengelola Taman Baca (TB) Ibuku di Desa Loram Wetan RT 3/RW 4, Kecamatan Jati, Kudus. TB yang berdiri 1 Mei 2008 lalu itu, kini telah berkembang pesat.
Hingga saat ini, TB Ibuku sudah mengoleksi 1.284 judul buku. Karena, buku yang ada di TB ini, untuk satu judul hanya ada satu eksemplar saja. Jika ada dua buku yang sama judulnya, maka akan diberikan ke TB yang lain.
Ada tujuan mulia yang ingin diwujudkan dengan TB ini, yaitu membantu program pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. "Kami juga ingin ikut berperan aktif dalam masyarakat, dalam memperluas ilmu pengetahuan. Selain itu, kami juga ingin mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi," ujarnya.
Adanya TB di Loram Wetan, masyarakat menyambutnya dengan baik. Para masyarakat sering menyuruh anaknya untuk datang ke TB-nya, baik sekadar membaca, atau meminjam buku. Setiap hari, anak-anak SD hingga remaja mendatangi taman baca tersebut.
Selasa, 25 Mei 2010
Awali dengan membaca akhiri dengan berbuat, budaya membaca sudah ada sejak zaman rasululloh shollahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, surat pertama yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala kepada nabi diawali dengan kata iqro’ yang mempunyai arti bacalah…! Yang di ulang – ulang sampai tiga kali.
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita dua telinga, dua mata dan satu mulut, dari hal tersebut dapat kita mengambil pelajaran bahwa kita dianjurkan untuk lebih banyak mendengar serta membaca dan tidak banyak bicara.
Komunikasi menjadi salah satu keterampilan paling penting dalam hidup ini, kadang banyak persoalan yang menyangkut hubungan kita dengan orang disebabkan kita salah berkomunikasi. Sering kita jumpai pertentangan dan perselisihan bersumber dari miskomunikasi. Persoalan yang kelihatannya sepele menjadi membesar, bahkan bisa terjadi pertumpahan darah.
Keahlian komunikasi bisa menjadi salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan dalam berinteraksi dengan orang lain. Namun ada hal yang harus diingat. Bahwa keterampilan komunikasi bukan sekedar bagaimana kita menyampaikan gagasan atau pendapat kepada orang lain.
Untuk menjaga komunikasi dengan orang lain tetap berjalan baik, perlu memilih dan memilah kata yang tepat untuk disampaikan pada orang lain. Dan membaca adalah langkah awal yang perlu diambil. Membaca memang mudah untuk diucapkan akan tetapi dalam pelaksanaannya sangatlah sulit.
Membaca sekarang ini menjadi aktifitas yang kurang diminati terutama oleh generasi muda, padahal dengan membaca kita dapat menambah pengetahuan juga pemahaman kita terhadap suatu hal serta meningkatkan perbendahaan kata dalam memori kita.
Salah satu alasan banyak orang tidak suka membaca buku karena banyaknya waktu yang harus dihabiskan meskipun buku itu menarik. Mereka tidak tahan jika harus berhari-hari menghabiskan suatu buku. Karenanya orang lebih suka dengan yang instan berupa ringkasan siap pakai.
Padahal, banyak informasi berharga dalam sebuah buku yang tidak bisa diperoleh dengan hanya mengandalkan ringkasannya saja. Persoalan ini sebenarnya dapat diselesaikan dengan meningkatkan kemampuan dan kecepatan baca. ketika kecepatan baca meningkat, keinginan untuk belajar banyak hal menjadi semakin besar. Buku-buku tebal yang tadinya terlihat menakutkan sekarang menjadi sahabat yang bisa dinikmati tanpa harus menghabiskan waktu terlalu lama untuk mempelajarinya. Seperti yang dijelaskan Bobbi De Porter dalam buku Quantum Learning, proses belajar suatu hal akan membantu Anda memahami hal lain sekaligus merangsang keinginan untuk belajar hal-hal baru. Dengan demikian, tercipta jaringan pengetahuan yang terus berkembang, ciri seorang manusia pembelajar.
Di zaman informasi seperti sekarang, kita dapat memperoleh informasi hampir dari mana saja. Mulai dari yang konvensional seperti buku, koran, majalah, atau tabloid sampai dokumen elektronik seperti ebook, website, blog, ensiklopedi elektronik, hasil pencarian di internet, dan begitu banyak sumber lainnya.
Bayangkan dengan banyaknya informasi tersebut, dibutuhkan kemampuan memilah informasi mana yang penting dan mana yang tidak. Informasi dalam jumlah tertentu yang dibutuhkan akan sangat berharga. Sementara informasi yang terlalu banyak tanpa pemilahan hanya akan menjadi sampah. Kemampuan menyerap dan menguasai informasi yang telah dipilih secara cepat dan efektif menjadi kunci sukses di era ledakan informasi.
Dengan rajin Membaca kita memberikan pelumas pada otak kita supaya siap dengan laju perkembangan zaman, sebaliknya jika kita tidak punya motivasi untuk gemar membaca akan membuat otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami ledakan informasi yang berada di sekitar kita.
Membiasakan membaca akan membantu kita dalam meningkat kemampuan komunikasi kita. Kemampuan komunikasi yang baik mengharuskan seseorang untuk memiliki keterampilan mendengarkan dengan baik pula. Untuk membuat orang lain memahami kita, terlebih dahulu kita harus memahami orang lain.
Agar kita memiliki keahlian untuk memahami oranglain, diperlukan keterampilan mendengar. Keterampilan yang dianggap tidak penting. Dan beberapa kebiasaan yang perlu kita rubah dalam mendengar adalah sebagai berikut :
Ketika orang lain berbicara, sering kita mengabaikannya meskipun sesekali mengeluarkan bunyi, ”ooooo gitu” tapi sebenarnya kita tidak mempedulikan apa yang sedang dibicarakan.
Kita berpura – pura mendengarkan, tidak memperhatikan namun sesekali mengeluarkan komentar-komentar, ”asyik itu....” untuk mengelabui lawan bicara.
Mendengarkan bagian-bagian tertentu dari percakapan, dan hanya merespon hal-hal yang menarik.
Mendengar dengan sudut pandang kita, biasanya kita berlagak pinter dan sok tahu. Bahkan yang lebih parah, kita sering memotong pembicaraan orang lain. Dan gaya mendengar seperti ini mengarahkan kita untuk menghakimi, menasehati, menggali atau juga menyelidiki.
Keempat kebiasaan gaya mendengar diatas perlu kita rubah sedikit demi sedikit dengan mendengar dengan sudut pandang orang yang diajak bicara, mendengar untuk mengerti. Dalam mendengar seperti ini ada tiga point penting dalam prosesnya
Pertama, mendengar dengan mata dan hati komunikasi bila diprosentase 7% berasal dari verbal (kata) 40% dari intonasi suara dalam berkata-kata dan 53 % berasal dari bahasa tubuh.
Kedua, menyelami perasaan, dengan berusaha memandang dunia dari kacamata lawan bicara dan mengalah dengan mengesampingkan perasaan kita.
Ketiga, bersikap seperti cermin. Bagaimana ? cermin tidak memberikan nasehat, cermin hanya memantulkan. Cermin juga tidak menghakimi. Atau dengan kata lain berarti mengulang maknanya, dengan menggunakan kata-kata kita.
Dengan membiasakan mendengar seperti diatas akan menambah deposito dalam rekening kepercayaan oranglain terhadap kita.
Seekor burung hantu yang bijaksana sedang bertengger disebatang pohon, semakin banyak dia melihat, semakin sedikit ia berbicara, semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar, mengapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu ?
Disarikan dari berbagai sumber
Moh. Taufiqurrohman
Wakil Sekretaris III PC IPNU Kudus
Jumat, 09 April 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Sabtu, 05 September 2009
Sabtu, 25 April 2009
Sejarah Kota Kudus
Lahirnya kota kudus tidak dapat dipisahkan dari nama sesepuh tertua yang pertama-tama menggarap tempat tersebut, yaitu Kyai Tee Ling Sing. Beliau adalah mubaligh Islam dari Yunan, yang datang bersama - sama dengan seorang pemahat / pengukir ulung bernama Sun Ging An ( Kemudian menjadi kata kerja nyungging yang berarti mengukir, daerah ukir mengukir dijaman purbakala ini kemudian menjadi desa Sunggingan ). Kyai Tee Ling Sing kemudian bersama - sama dengan pendatang Ja ' far Shodiq ( sunan Kudus ) secara bertahap berhasil menguasai daerah kudus dan mengembangkanya.
Kota suci Kudus / Baitul Mukadis sudah sangat terkenal di pulau Jawa, dan bahkan Nusantara sebagai pusat penyebaran agama Islam, Masjid besarnya bernama Al - Manar atau Al - Aqsa, seperti masjid suci di Baitul Mukadis bagian Islam. Sejak abad 17 pengunjung - pengunjung barat sudah mengagumi Menara raksasanya - sebuah bangunan kukuh, berarsitektur candi - candi pra - Islam.
Kerajaan kecil Kudus
Sejarah kota Kudus tidak lepas dari nama seorang tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa yaitu Ja ' far Shodiq, atau lebih di kenal sebagai Sunan Kudus, bersama tokoh - tokoh agama Islam, mereka membangun kekuasaan berdasarkan wibawa rohani terhadap para jemaah dan orang alim. pada segi tertentu, mereka dapat di bandingkan dengan raja - raja Cirebon dan Giri Gresik, yang memulai kegiatan mereka sebagai pemimpin agama, membentuk dinasti dan berhasil meraih kekuasaan politik cukup besar.
Pemimpin rohani ini berderajat tinggi, penuh semangat tempur bernama sunan Kudus. Ikut bertugas dalam militer melawan Mojopahit pada tahun 1527, bertahun - tahun hidup di Demak sebagai penghulu mesjid suci Demak - karena berselisih denga raja Demak perkara permulaan bulan Puasa beliau pindah ke Kudus dan selanjutnya mendirikan kerajaan kecil disana.
Kota Kudus berkembang bersama dengan daerah lain, dan embrio ini sekarang dikenal sebagai kota Kuno atau pusat kota lama, di sebut Kudus kulon dan terdiri dari 7 desa :
- Pemukiman : berdasarkan etnis sosiologis, perkembangan pemukiman di Kudus bisa di kelompokan sebagai berikut :
Kudus Kulon :
1. Pusat Kota Lama :
*Kauman
*Kerjasan
*Langgar Dalem
*Demangan
*Janggalan
*Damaran
*Kajeksan
2. Daerah Pinggiran Kota :
*Krandon
*Singocandi
*Purwosari
*Sunggingan
Kudus Wetan :
1. Daerah Cina :
*Panjunan
*Kramat
*Wergu Kulon
2. Daerah Priyayi :
*Nganguk
*Glantengan
*Barongan
3. Daerah Abangan :
*Mlati Kidul
*Mlati Lor
*Mlati Norowito
*Rendeng
*Wergu Wetan
4. Desa - Desa Lainya :
*Demaan
*Burikan
*Kaliputu
- Penduduk : Disini kita melihat adanya pengelompokan sistem sosial - meminjam Tipologi Jawa dari Geertz yaitu santri, Priyayi dan Abangan, walaupun tidak tepat benar. Penduduk Arab dan Cina juga bermukim disana, termasuk Eropa berdasar sensus tahun 1930 berjumlah 417 penduduk
Potret Kota Kudus dalam Sejarah Nasional
Suatu Potret yang diambil di rumah H. Mc. Noerchamid, Kunjungan tokoh pejuang nasional Dr. Gatot Subroto dan tokoh - tokoh pejuang Nasional lainya di kota Kudus
Sosial Budaya
Melacak Tradisionalisme di Kudus berarti melacak sosial budaya saat ini dan yang lalu untuk mendapatkan gambaran yang tidak terputus. Dan tradisionalisme ini jelas adalah kontinuitas pada lingkungan kota lama, yaitu Kudus Kulon.
Priyayi Kudus adalah Aristokrat keturunan Sunan Kudus, yang diberi gelar oleh pemerintah kolonial dan sebenarnya tidak disenangi oleh mereka, Umumnya mereka tidak kaya, memilih bekerja sebagai pedagang, pengrajin, mubaligh dari pada sebagai pegawai negeri. Orientasi budaya adalah santri. Bahkan salah satu Raden yakni KHR. Asnawi menjadi pendiri NU. Sebagian besar orang - orang Kudus Kulon tinggal di rumah - rumah besar, para generasi lama membangun kekayaan mereka dengan cara hidup sederhana, bekerja keras, menjadi usahawan yang ulung dan santri yang saleh, agak kurang percaya dengan pendidikan ala barat kecuali pendidikan Islam tradisional. Pada periode puncak kemakmuran mereka, mereka cenderung menjadi bangsawan borjuis yang sadar bahwa dengan mereka bertentangan dengan pegawai priyayi dan elite priyayi.
Sumber : http://www.geocities.com/kudus_online1/sejarah.htm
Selasa, 21 April 2009
Nyalakan Kembali Semangat Kartini
NYALAKAN KEMBALI SEMANGAT KARTINI
Oleh : M. Taufiqurrohman
Ketua Karang taruna Karya Muda Loram Wetan
Periode : 2007 -2010
Senin, 20 April 2009 satu babak baru bagi para generasi muda telah dimulai, UN untuk SMA/MA/SMK se- Indonesia, satu babak yang sejak tahun 2003 selalu ada peningkatan dalam standart kelulusan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana banyak siswa yang tidak mencapai standart kelulusan atau bisa dikatakan tidak lulus, untuk Ujian Nasional tahun ini diharapkan tidak terulang kembali. Sudah bukan hal baru lagi bagi semua orang bahwa sekarang ini kita sudah ada di era globalisasi. Era dimana semua bangsa-bangsa di dunia ini saling bertarung antara satu dengan lainnya untuk bisa bertahan. Hanya bangsa yang siap secara mental, skill, pengetahuan, pendidikan, dan penguasaan teknologilah yang akan bisa survive dengan baik. Dalam era pasar bebas inilah generasi kita harus-harus benar-benar disiapkan dengan baik. Dan pendidikan adalah cara utama untuk membekali generasi muda kita. Generasi muda yang akan menentukan maju dan tidaknya Negara kita dimasa yang akan datang.
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata kegiatan mengumpulkan atau menghafalkan baik itu hal-hal yang tersaji berupa data dan fakta maupun berupa mata pelajaran yang diberikan oleh guru. Kita ketahui bersama bahwa belajar dalam arti luas adalah rangkaian perubahan progresif yang berlangsung terhadap suatu individu, perubahan atau penyesuaian ini terjadi karena pengaruh lingkungan dimana individu tersebut hidup. Minat, bakat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kehadiran motivasi pada diri seseorang akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya peningkatan prestasi juga dalam upaya mewujudkan cita-cita bahkan mimpi.
Di negeri kita ini masih banyak sekali terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai hal, dalam hal pendidikan masih segar dalam ingatan kita tentang sebuah kisah perjuangan seorang anak bernama Lintang dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang sukses diangkat dalam layar lebar oleh sutradara Riri Riza. Seorang anak udik dari pesisir yang mempunyai motivasi kuat untuk bersekolah yang dengan segala keterbatasannya dapat memberikan inspirasi pada teman-temannya bahkan guru yang mendidiknya untuk tetap bersemangat dalam belajar dan menularkan pengalaman belajar. Meskipun ia mengalami kendala ekonomi dan harus menempuh jarak puluhan kilometer, serta ancaman buaya liar yang senantiasa menghalangi jalan satu-satunya menuju kesekolah, tidak membuat Lintang menyerah, pada akhirnya keadaan yang tidak lagi mendukung harus memupus keinginan besarnya untuk tetap bersekolah yakni ketika Bapak yang menjadi tulang punggung keluarganya meninggal dunia sehingga mau tidak mau ia harus menggantikan bapaknya untuk menghidupi keluarga. Jangan kita lupakan juga semangat dari pak Harfan seorang tua yang mengabdikan hidupnya dalam dunia pendidikan sampai akhir hayatnya, dalam mempertahankan sekolahan yang mendidik Lintang dan sahabat-sahabatnya meskipun hanya dihuni 10 anak didik dan infrastruktur sekolah yang 90 % dipastikan akan roboh.
Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi yang mengangkat kearifan budaya lokal dengan memberikan pendidikan karakter yang saat ini sudah mulai terlupakan. Pendidikan karakter adalah Pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Keikhlasan seorang guru dalam mendidik muridnya, ketulusan dan semangat anak –anak dalam mencari ilmu meskipun dengan banyak keterbatasan, juga kepedulian masyarakat ataupun pembuat kebijakan dalam hal penyediaan infrastruktur pendidikan semakin mempertegas ketimpangan – ketimpangan dinegeri ini, dinegeri yang banyak orang-orang pintar senang bermain dengan kepintarannya, yang berkuasa semakin mempertegas kekuasaannya dengan mensistematiskan pembodohan warga Negara. Yang pintar senang mengembang biakkan yang bodoh dengan kebodohannya, yang bodoh semakin bahagia karena tidak usah terlalu banyak pikiran yang terpenting adalah uang. Upaya memperbaiki pendidikan juga hal –hal yang lain harus kita akui gencar digalakkan oleh pemerintah, akan tetapi upaya yang mulia ini selalu mengalami kendala teknis maupun non teknis yang penyebabnya dari yang menjalankan upaya mulia tersebut.
Di negeri demokrasi ini, yang – ungkap Goenawan Mohammad – seperti bangunan yang tergopoh mengejar dirinya, tak mampu menampilkan wajah persaingan dengan nafas sejuk. Selalu ada pertikaian di tiap sudut, berulang muncul di tepian kalut.
Tapi tetap saja, kekuasaan menjadi incaran yang tak pernah dapat dibendung. Manusia, tetap saja berebut menikmati tangga posisi kuasa itu, walaupun dibarengi hujan tangis air mata saudara dan tetangga. Tapi inilah hidup, ketika hasrat tak mampu lagi dibendung dengan sekedar wacana (Munawir Aziz)
Di negeri yang kaya dengan hasil alam ini, yang – ungkap Muhammad Nasrurrohman- seperti dunia tukang kritik, baru sedikit saja melakukan kesalahan, bukan saling membenahi bersama agar kesalahan tidak cepat selesai, tapi kritik seolah hal utama yang harus didahulukan. Begitu pula dengan pemerintah, sudah tahu bukan bajunya, masih saja dipakai, ya… akhirnya tidak pas, tapi dipas – paskan, sehingga yang terlihat dagelan alias kekonyolan dalam menjalankan pemerintahan. Hidup memang sandiwara, tapi sandiwara tidak selamanya bias diterapkan dalam kehidupan, jika itu yang terjadi, sama halnya main sandiwara (baca : film), habis berakting, turun panggung sudah berbeda peran lagi, itu tidak masalah, tapi bagaimana dengan bayaran yang diterimanya, bukankah itu harus ada pertanggungjawabannya ? Apa mau pakai sistim KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).
Satu abad yang lalu lahir seorang putri terbaik Indonesia, bernama Raden Ajeng Kartini seorang putri bangsawan yang berkepribadian relawan. Seorang yang mempunyai kesempatan belajar pada zaman itu dimana hanya kaum bangsawan yang bisa bersekolah. Seorang yang mempunyai semangat memperjuangankan hak setiap orang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan terutama kaum perempuan yang dalam tradisi jawa hanya dijadikan pelengkap kehidupan bagi kaum laki-laki.
Mimpi dari seorang Kartini untuk merubah tradisi yang tidak adil ini adalah hal yang tidak mudah dalam mewujudkannya, banyak kendala-kendala yang dihadapi akan tetapi karena semangat yang tidak pernah berhenti maka alam dan kondisi sekitar membantu dalam mewujudkannya. Terutama ketika Kartini menikah dengan Bupati Rembang yang sebelumnya membuat Kartini khawatir cita-citanya untuk mencerdaskan rakyatnya terhalang karena statusnya sebagai seorang istri, tapi nyatanya malah sebaliknya sang suami mendukung cita-cita istrinya dengan mendirikan bangunan yang dikhususkan untuk proses belajar mengajar.
Kemauan kuat Kartini dalam upaya mencerdaskan kaumnya, semangat tiada henti meskipun kendala menghadang, ketulusan membantu dan meningkatkan kualitas intelektual sesame bahkan orang yang dibawahnya tanpa mengharapkan imbalan, membantunya dalam mewujudkan cita-cita. Semangat inilah yang harus kita nyalakan kembali, semangat yang sedikit banyak sudah meredup sehingga akhirnya padam.
Adalah sebuah kewajiban kita bersama menyalakan semangat Kartini, bersama mencerdaskan bangsa. Sekecil apapun membuat perubahan positif di lingkungan kita. Orang bijak mengatakan “ Hidup adalah untuk berjuang, mencari, dan menemukan. Bukan untuk menyerah…..!!! ”.
* Terinspirasi dari tayangan Metro Files (Ahad, 19 April) kemarin yang menceritakan tentang sosok R. A. Kartini dan disarikan dari pelbagai sumber.

